Minggu, 12 Februari 2012

MARSINGGO - Sejarah Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia


a. Pengertian kolonialisme dan imperialisme
Kolonialisme
Kolonialisme berasal dari kata “colonus” yang artinya petani. Istilah ini diberikan pada para petani Yunani yang pindah dari negerinya yang tandus dan pindah ke daerah lain yang lebih subur. Para colonus tetap menjalin hubungan dengan negara asalnya, tapi oleh negara asal(induk) daerah tadi dianggap sebagai bagian dari negara induk dan harus tunduk pada negara asal (mother land). Dari sinilah muncul awal penjajahan (imperialisme).
Jadi kolonialisme adalah suatu sistem pemukiman warga suatu negara di luar wilayah induknya atau negara asalnya. Biasanya daerah koloni terletak di seberang lautan dan kemudian dijadikan bagian wilayah mereka.
Imperialisme
Berasal dari kata latin “imperare” yang artinya menguasai.Orang yang menguasai disebut imperator yang berarti raja atau penguasa. Imperium adalah daerah yang dikuasai imperator. Imperator menguasai bangsa yang mendiami wilayah imperium dengan alasan agar mereka merasa lebih aman atau lebih sejahtera. Jadi imperialisme adalah suatu sistem penjajahan langsung dari suatu negara terhadap negara lain. Penjajahan dilakukan dengan jalan membentuk pemerintahan jajahan atau dengan menanamkan pengaruh dalam semua bidang kehidupan daerah yang dijajah.
Walaupun kolonialisme dan imperialisme berasal dari kata dan pengertian yang berbeda namun dalam prakteknya berarti satu yaitu penjajahan oleh bangsa satu terhadap bangsa lain. Kolonialisme lebih diartikan pada proses pembentukan atau penguasaan wilayah, sedangkan imperialisme lebih diartikan pada praktek penjajahannya.
b. Masuknya kekuatan barat dan berkembangnya kolonialisme dan imperialisme barat di Indonesia
Latar belakang pelayaran orang-orang eropa ke dunia timur dimulai dengan peristiwa dikuasainya kota Konstantinopel(ibukota Romawi Timur) oleh bangsa Turki dalam perang salib (1453) membawa perubahan besar bagi bangsa eropa. Kesultanan Turki melarang orang kristen membeli rempah-rempah dari Konstantinopel yang waktu itu menjadi satu-satunya pusat perdagangan rempah-rempah di eropa. Hal inilah yang akhirnya memaksa orang orang eropa untuk berlayar ke dunia timur dengan tujuan mencari sendiri pusat rempah-rempah dunia.
Selain latar belakang di atas ada juga beberapa faktor yang mempercepat keinginan dari bangsa eropa untuk mengadakan pelayaran samodera, yaitu :
  • Keinginan untuk membuktikan teori Copernicus (heliosentris) matahari adalah pusat dunia
  • Keinginan untuk membuktikan teori Galileo Galilei yang menyatakan bahwa bumi itu bulat
  • Keinginan untuk membuktikan kisah perjalanan Marcopolo dalam bukunya “Imago Mundi” yang menceritakan keajaiban dan kemakmuran di dunia timur (Cina)
  • Ditemukannya kompas sebagai alat penunjuk arah dalam perjalanan
  • Adanya semangat penaklukan (reconquista) terhadap orang-orang Islam di seluruh dunia
  • Gold : keinginan untuk mencari kekayaan. Kekayaan yang dicari terutama adalah rempah-rempah
  • Gospel : keinginan untuk menyebarkan agama nasrani. Bangsa eropa mempunyai tugas suci untuk menyebarkan agama nasrani ke seluruh dunia
  • Glory : keinginan untuk mencari kejayaan dengan cara mencari daerah jajahan seluas-luasnya. Terdapat anggapan bahwa daerah jajahan adalah daerah yang jaya
Negara-negara pelopor perjalanan ke dunia timur
Masa ketika negara-negara eropa melakukan perjalanan ke dunia timur dikenal dengan sebutan abad penjelajahan samudera. Negara-negara yang mempeloporinya adalah Portugis dan Spanyol. Berikut tokoh-tokohnya :

Portugis
Bartholomeus Diaz (sampai ujung selatan Afrika 1486) Adalah bangsa Portugis pertama yang melakukan penjelajahan samudera. Ia melakukan pelayaran melalui arah timur dengn menelusuri Pantai Barat Afrika yang kemudian sampai di ujung Afrika selatan. Tapi keinginan Bartholomeus Diaz untuk sampai ke daerah timur gagal karena kapalnya mengalami kerusakan karena terhempas badai di Tanjung harapan.
Vasco da Gama ( sampai India 1498) Adalah penerus Bartholomeus Diaz, dia berlayar mengambil rute dari tanjung harapan menuju Mozambique dan tahun 1494 sampai di Calicut (India).
Alfonso d’ Albuquerque ( sampai Malaka 1511, Maluku 1512) Adalah orang Portugis pertama yang sampai di Indonesia dengan melalui rute yang telah dibuat oleh Bartholomeus Diaz dan Vasco da Gamma dia sampai di Kalaka dan Maluku.
Spanyol
Colombus ( penemu jalan ke Amerika, mendarat di kepulauan Bahama dan Haiti 1492), Pelayarannya dimulai kearah barat menyeberangi Samudera Atlantik dan berhasil mendarat di kepulauan Bahama dan menemukan Benua Amerika. Nama Amerika diambil dari nama pendamping Columbus saat melakukan pelayaran, dia adalah Amerigo Vespucci.
Ferdinand de Magelhaenz (pengeliling dunia pertama 1519 – 1522),Ia berlayar ke arah barat mengikuti jejak Columbus. Adapun rute yang ditempuh adalah dari Tanjung Verde (di Lautan Atlantik) menyeberang kea rah selatan hingga mencapai ujung Benua amerika (Selat Magelhaens). Dari sini dia menyeberangi lautan Pasifik kea rah barat dan berhasil mendarat ke Pulau Guam. Dari Pulau Guam pelayaran diteruskan ke Filipina, di Filipina dia mendapat masalah dengan penduduk local hingga dia tewa (1512). Kemudian pelayaran dilanjutkan oleh Juan Sebastian del Cano. Mereka singgah di Maluku untuk membeli rempah-rempah dan dibawa kembali ke Sepanyol.
Negara-negara eropa yang lain seperti Inggris, Perancis, Belanda dll akhirnya mengikuti jejak Portugis dan Spanyol mengadakan penjelajahan samudera.
Akibat penjelajahan samudera adalah:
- ditemukannya benua baru oleh bangsa eropa, seperti Amerika, Australia.
- Munculnya penjajahan yang dirasakan oleh bangsa pribumi
- Pengenalan budaya barat kepada penduduk asli
c. Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia
Secara umum kedatangan bangsa barat di Indonesia dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan mendesak mencari rempah-rempah, yang kemudian diikuti oleh mencari kejayaan dan menyebarkan agama (Glory, Gold, Gospel). Bangsa-bangsa barat yang pernah menjajah Indonesia antara lain : Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis (tidak langsung), Belanda. Spanyol masuk dari Filipina ke Maluku (Tidore) tahun 1521, Portugis masuk Indonesia dari Malaka ke Maluku (Ternate) 1512.
Belanda masuk ke Indonesia pada tahun 1596 dengan mendarat di Banten dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Di Indonesia mereka mendirikan VOC (1602).
1. Bangsa Portugis Menjajah Indonesia
Pada tahun 1512, bangsa Portugis yang dipimpin oleh Fransisco Serrao mulai berlayar menuju Kepulauan Maluku. Bahkan pada tahun 1521, Antonio de Brito diberi kesempatan untuk mendirikan kantor dagang dan beneng Santo Paolo di Ternate sebagai tempat berlindung dari serangan musuh. Orang-orang Portugis yang semula dianggap sebagai sahabat rakyat ternate berubah menjadi pemeras dan musuh.
2. Bangsa Spanyol Menjajah Indonesia
Pelaut Spanyol berhasil mencapai Kepulauan Maluku pada tahun 1521 setelah terlebih dahulu singgah di Filipina disambut baik oleh rakyat Tidore. Bangsa Spanyol dimanfaatkan oleh rakyat Tidore untuk bersekutu dalam melawan rakyat Ternate. Maka pada tahun 1534, diterbitkan perjanjian Saragosa (tahun 1534) yang isinya antara lain pernyataan bahwa bangsa Spanyol memperoleh wilayah perdagangan di Filipina sedangkan bangsa Portugis tetap berada di Kepulauan Maluku.
3. Bangsa Belanda Menjajah Indonesia
Proses penjajahan bangsa Belanda terhadap Indonesia memakan waktu yang sangat lama, yaitu mulai dari tahun 1602 sampai tahun 1942. Penjelajahan bangsa Belanda di Indonesia, diawali oleh berdirinya persekutuan dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oost Indische Campagnie (VOC).

Rabu, 08 Februari 2012

MARSINGGO - Potret Keluarga Haji Agus Salim


oleh : Irfan Saputra,
Mahasiswa STID (Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah) Mohammad Natsir, Peminat Pemikiran Islam.

Shoutussalam.com Mashudul Haq (Pembela Kebenaran) bukanlah nama masyhur yang akrab ditelinga orang banyak, Namun siapa sangka nama ini adalah nama yang dimiliki oleh tokoh pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang kuat memegang Islam sebagai asas pokok dari perjuangannya, Ia adalah Haji Agus Salim (1984-1954).
Dari segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliknya, namun ia merupakan seorang sosok yang kuat pendiriannya, dalam keilmuan agamanya serta memiliki pengetahuan umum yang luas. Kelebihannya dalam bidang bahasa ditunjukannya dengan menguasai tidak kurang dari 7 bahasa, diantaranya; Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Arab, Turki dan Melayu (Indonesia). Kemampuan lisannya tak kalah hebat, dengan ciri khas pembawaan katanya yang sopan namun tegas, telah mampu menggetarkan sidang Volsraad dan Konferensi Buruh Sedunia (ILO) di jeneva.
Perannya bersama HOS Tjokroaminoto, Samanhudi dan Abdul Muis sebagai pimpinan Sarekat Islam (SI), bagai pillar-pillar yang saling melengkapi corak dan bentuk dari SI. H Agus Salim memiliki jasa besar membersihkan pemahaman komunis yang berada dalam tubuh SI. Maka ia-pun dikenal sebagai orang yang cukup gigih memperjuangkan ajaran Islam dengan turut membendung pemahaman sosialisme-marxisme dan nasionalisme yang tengah berkembang pada masa itu. Melalui corong media surat kabar, ia menyuarakan gagasan-gagasan serta kritik tajamnya terhadap pemerintahan HIndia-Belanda. Ia aktif pula membimbing para generasi muda yang berkecimpung pada organisasi Jong Islamiten Bond, Tak kurang tokoh seperti Muhammad Natsir, Muhammad Roem, Kasman Singo Dimejo dan lainnya, tiada lain termasuk sebagai hasil didikannya. Maka julukan yang kerap disandingkan padanya adalah sebagai “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man).
Dibalik nama besarnya. H Agus Salim yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi itu, sesungguhnya dapat hidup enak, andai kata ia mau bekerja pada pemerintah Hindia-Belanda. Apalagi karena sikapnya yang Kritis terhadap kebijakan kolonialis, tentu membuatnya harus berhadapan dengan konsekuensi yang amat berat. Akibat dari sikapnya ia kesulitan mencari nafkah dan kehidupan penuh derita bagi keluarga. H Agus Salim bukannya tak tahu akan konsekuensi dari sikapnya ini, namun rupanya sudah menjadi tekad baginya untuk menuruti hati nurani. Maka demikianlah, sejak ia keluar dari dinas pemerintahan, kantor Bureau voor Openbare Werken (BOW) atau kantor pekerjaan umum pada tahun 1912 dan memasuki dunia pergerakan pada tahun 1915, hidupnya adalah sebagai partikelir yang terus-menerus dilanda kemiskinan. Padahal diwaktu yang bersamaan ia sedang membentuk sebuah keluarga, Seorang demi seorang anaknya pun lahir. Mulai dari tahun 1913 sampai lebih kurang 25 tahun kemudian. Dalam periode paling sulit, dimana ia harus sampai puluhan kali berpindah-pindah rumah, tanggungannya adalah seorang istri (Zainatun Nahar) dan delapan anak yang masih kecil-kecil.
Apabila keadaan sedang lumayan, dimana ia mempunyai penghasilan tetap misalnya sebagai hoofdredacteur atau pimpinan redaksi sebuah surat kabar, maka keluarga salim tinggal dirumah yang cukup baik juga. Tetapi begitu jabatan lepas dari tangan, seringnya karena pemilik modal menganggapnya terlalu tajam terhadap penguasa, maka sulit baginya untuk bertahan hidup di rumah baik yang biaya sewanya yang menjadi tak terpikul lagi. Pindahlah mereka kerumah yang lebih murah sewanya, tentu yang lebih kecil dan jelek, serta lokasinya dikampung yang becek, di gang yang pengap. Puluhan kali seperti ini terjadi, baik di Jakarta ataupun di kota lain seperti di Jogja dan Surabaya.
Di Jakarta mereka pernah tinggal di daerah Tanah Abang, di Karet, di Jatinegara, di Gang Kernolong, di Gang Taepekong, Gang Listrik dan masih banyak lagi, terlalu banyak untuk diingat satu persatu. Namun kadang-kadang di suatu alamat ada kejadian yang membuat kenangan tak terlupakan. Misalnya, apa yang mereka alami di Gang Listrik, Justru di alamat ini Agus Salim sekeluarga hidup tanpa listrik, gara-gara uang jaminan untuk langganan listrik tak mampu mereka bayar. Anak keempat Agus Salim, Adek (nama panggilannya) kiranya tak akan melupakan periode ini karena adalah tugasnya ketika itu sebagai anak kecil untuk membersihkan lampu-lampu setiap sore. Memang waktu itu, ia dan kedua kakaknya sudah belasan tahun dan pembagian kerja untuk menolong dirumah kira-kira adalah: Dolly (Theodora Atia) kerjanya menjahit, Yoyet (Violet Hanifah) memasak dan Adek (Maria Zenobia) membersihkan rumah. Ada masa lain lagiyang boleh dikata masa paling sulit, dimana mereka haru lima kali memboyong hak milik mereka yang tak banyak ke rumah sewaan berikutnya, hanya dala waktu kurang dari dua tahun!
Diceritakan kembali puluhan tahun kemudian, orang hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala, tapi bagi keluarga tersebut waktu itu adalah masa yang sama sekali bukan lelucon. Terutama untuk si Ibu rumah tangga yang pada hakikatnya harus memecahkan banyak persoalan seakaligus. Bukankah bersamaan dengan pindah-pindah rumah itu, mereka selalu kekurangan uang belanja, sehingga otak harus berputar terus mencari akaluntuk tetap dapat memberi makan kepada anak-anak yang sedang dalam pertumbuhan. Buat pasangan suami-istri zaman sekarang keadaan ini mungkin tak terbayangkan. Keluarga besar, tempat tinggal tak tetap, uang belanja minim. Wah, rasanya lengkaplah sudah. Ibu rumah tangga mana yang tak menjadi uring-uringan kepada suami yang sok pegang prinsip, karena pada hakikatnya ia yang harus menghadapi kesulitannya. Mana anak-anak tak disekolahkan lagi, lalu apa yang harus diperbuat? Bayangan orang pasti rumah itu kacau, tegang dan semrawut!
Ternyata tidak demikian keadaannya, Agus Salim dan keluarga rupanya hidup dalam suasana akrab, gembira dan cukup bahagia. Para tamu –orang-orang muda kalangan Islam yang sudah seperti keluarga dengan mereka– juga selalu menemukan keadaan yang menyenangkan. Memang benar, mebel bagus dan mahal-mahal jarang mereka miliki, mungkin juga akan menjadi beban belakabagi orang yang sering pindah rumah seperti mereka.
Kalau memang begitu, lalu di mana gerangan letak kunci kebahagiaan mereka? Jawabnya mungkin sekali harus dicari dalam watak dari Paatje dan Maatje (Panggilan mesra masing-masing untuk Ayah dan Ibu) dalam keluarga ini. Paatje adalah orang yang tawakal, pasrah dan bersyukur kepada kepada Allah, disamping punya watak bawaan yang optimis dan penuh humor. Ia kuat beribadah dan mampu menunjukan kasih sayang serta perhatian cukup pada istri dan anak-anaknya. Maatje adalah orang yang percaya penuh pada suami dan perjuangannya. membiasakan diri menerima keadaan sebagaimana adanya, tabah tanpa mengeluh. Dengan ketenangan luar biasa Maatje menyesuaikan keadaan rumah tangga pada perkembangan dan perubahan yang silih berganti.
Misalnya waktu uang belanja telah tipis. Walau nasi ada tapi uang pembeli lauk-pauk Paatje dan Maatje tak punya. Apa akal? Sambil bergurau dibumbui humor yang melibatkan anak-anaknya, Paatje menyingsingkan lengan baju, beramai-ramai membuat nasi gorang. Dalam suasana ceria sekeluarga makan bersama sementara anak-anak benar-benar merasa mendapat “traktiran” yang istimewa dari Paatje. Pada kesempatan lain tetap nasi panas hanya di campur kecap, mentega atau bahkan susu, dilahap anak-anak dalam suasana riang, tanpa menyadari bahwa mereka makan hanya demikian karena tiada uang pembeli sayur.

Seorang ayah yang pasrah dan tawakal juga Nampak dari sikapnya yang tenang ketika pernah hendak pindah rumah, namun tiada uang untuk biaya.
“Allah maha besar, Kita tentu akan diberi-Nya jalan” demikian ia berucap kala itu. Ternyata sikap ini benar-benar menunjukan jalan keluar. Pada saat itu kebetulan datang poswesel, kiriman pembayaran sesuatu yang tak diduga-duga.
Contoh kesabaran Maatje tercermin dalam suatu cuplikan kejadian yang sempat diingat oleh para putra-putrinya. Pernah suatu waktu mereka tinggal di sebuah rumah yang atapnya bocor. Apabila hujan turun, maka air pun membanjir masuk kamar. Si Ibu muda Zainatun Nahar yang mempunyai anak-anak kecil, bukannya lalu sedih dan panik. Tapia pa yang dilakukan? Ember-ember ditaruhkan ditempat-tempat yang kebocoran. Anak-anak diajak membuat perahu dari kertas, dan asyiklah mereka main perahu bersama. Tanpa terasa rumah yang bocor malah membawa hikmah, malah dirasakan sebagai suatu suka cita yang dapat menciptaka keasyikan bersama. Detik-detik bahagia seperti ini tertanam dalam-dalam di kalbu dan untuk selanjutnya akan tersimpan sebagai kenangan manis seumur hidup mereka.
Memang rupanya ada sisi-sisi lain dari penderitaan yang bisa terasa manis karena adanya belaian kasih sayang, terpancar dari perbuatan-perbuatan kecil tapi nyata, dipupuk oleh kebersamaan yang hangat. Kita jumpai kisah-kisah ini dari berbagai tulisan-tulisan yang terpisah-pisah, dan juga melalui pita kaset hasil rekaman suara Istri Agus Salim sendiri. Pada suatu masa mereka menempati rumah buruk yang kakusnya telah rusak, apabila disiram maka meluaplah isi kakus tersebut. Melihat ini Zainatun Nahar benar-benar tak tahan dan setiap kali ke WC, malah muntah-muntah karena jijik. Agus Salim tak sampai hati mambiarkan istrinyamenderita, untuk selanjutnya ia melarang untuk menggunakan WC yang rusak itu dan ia sendirilah yang setiap hari membuang pispot istrinya.
Mungkin itulah sekelumit gambaran keluarga dari seorang pejuang pergerakan islam, Rijalud Da’wah. Sebuah dimensi yang terkadang orang sering kali tak memperhatikannya, namun terkadang justru disitu terletak banyak pelajaran berharga. Tentunya yang demikian itu barulah sedikit kisah dari hikayat hidup orang besar seperti Haji Agus Salim. dan rasanya masih banyak lagi bagian dari kisah hidup yang sangat menginspirasi khususnya bagi saya pribadi sebagai seorang pemuda.
Allahu A’lam

taken from : focusvillage.wordpress

(last)

Senin, 06 Februari 2012

MARSINGGO - Profil Keteladanan Bung Hatta


Perjalanan almarhum Mohammad Hatta memperlihatkan sosok yang menghayati “kerisihan” pada godaan uang dan kekuasaan, bahkan sampai tingkat yang sedikit “keterlaluan” untuk ukuran masa kini di negeri kita. Pria yang dilahirkan di Batuhampar, 12 Agustus 1902 ini, sejak muda memegang prinsip kejujuran. Maka tak heran jika ia selalu dipercaya menjadi bendahara oleh teman-temannya. Jabatan bendahara Jong Sumatran Bond (JSB) cabang kota Padang pernah ia pegang ketika belajar di MULO (Meer Uitgebreid Lagere School) atau SMP berbahasa Belanda. Jabatan yang mengandalkan kejujuran dan ketelitian itu, ia teruskan ketika ia harus hijrah ke Batavia untuk melanjutkan sekolah di Prins Hendrik School (Sekolah Menengah Dagang).
Minatnya pada bidang ekonomi, dan juga koperasi, terus terlihat melalui berbagai karangan dan buku. Karenanya, pada tanggal 17 Juli 1953 dalam Kongres Koperasi Indonesia dirinya diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Perhatiannya pada unsur keadilan dalam ekonomi, selain dalam fokusnya pada koperasi, juga terasa dalam kehidupan sehari-hari – dan ciri inilah yang secara konsisten diperlihatkan, hal yang langka di antara para tokoh Indonesia terutama setelah jaman semakin ‘maju.’


27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
Banyak Universitas memberikan gelar Honoris Causa padanya. Selama ia menjabat wakil Presiden (1950-1956) dirinya tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di pelbagai lembaga pendidikan tinggi. Pada 1 Desember 1956, Mohammad Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden pertama. Sejak itulah, praktis ia menjadi warga negara biasa. Beberapa tawaran perusahaan Belanda untuk menjadikan dirinya komisaris ia tolak. Alasannya, sangat sederhana. Seperti alasan orang Jawa, ewuh pakewuh. “Apa kata rakyat nanti..” Hatta tidak mau mengambil tawaran itu karena “malu” dinilai hanya mencari pangkat dan jabatan saja. Ia juga tidak mau dinilai rakyat sebagai orang yang hanya mementingkan diri sendiri dengan tidak mau memperhatikan perkembangan negeri ini. Sikap jujur dan sederhana ia tunjukkan dengan menolak kenaikan uang pensiun yang tidak lagi mampu membiayai keluarganya (dengan istri dan tiga orang anaknya). Bahkan ia juga menolak diberi rumah tambahan yang lebih besar karena takut tak mampu membiayai ongkos perawatan rumah tersebut. Bahkan, World Bank ketika itu pernah menawarkan kedudukan pada Hatta, namun ia tolak. Penolakan itu juga sempat mengecewakan anak-anaknya. Halida, anak bungsunya, mengatakan bahwa ia ingin kuliah ke luar negeri. Namun, keinginan itu tertunda lantaran penolakan Hatta atas posisi yang ditawarkan World Bank.

Bersama Bung Karno
Sikap jujur dan sederhana ia tunjukkan dengan menolak kenaikan uang pensiun yang tidak lagi mampu membiayai keluarganya (dengan istri dan tiga orang anaknya). Bahkan ia juga menolak diberi rumah tambahan yang lebih besar karena takut tak mampu membiayai ongkos perawatan rumah tersebut. Bahkan, World Bank ketika itu pernah menawarkan kedudukan pada Hatta, namun ia tolak.
Pada tahun 1965 Hatta “dipaksa” melihat kesedihan yang mendalam dengan jatuhnya ribuan korban pada peristiwa 30 September. Ketika itu, Hatta berharap ada pengadilan yang digelar untuk Soekarno supaya jangan ada tuduhan-tuduhan terhadapnya tanpa tanggung jawab. Pengadilan ini, menurut Hatta, kelak menjadi pelajaran berharga bagi penguasa selanjutnya di Indonesia. Di sini tampak sikap tokoh Indonesia yang juga langka dalam hal niat membatasi korupsi kekuasaan, sikap yang tampaknya tidak “menurun” pada para penguasa negeri ini, mengingat resistensi yang tinggi terhadap gagasan dan upaya membawa petinggi ke pengadilan.

Berbagai buku dan sumber lain tentang Bung Hatta menunjukkan harapannya yang besar di awal masa pemerintahan Soeharto. Namun juga tampak kekhawatirannya pada perkembangan peran militer dengan jargon dwifungsinya. Hatta juga menekankan perlunya sikap dan cara pihak sipil berpolitik dengan lebih bertanggung jawab.

Soeharto
Kekecewaan pada pemerintahaan Soeharto semakin membesar, tatkala ia menyaksikan peristiwa Malari (Peristiwa Limabelas Januari 1974) dan penyelesaiannya yang menandakan menguatnya pemerintahan yang otoriter. Rancangan Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Orde Baru dinilai Hatta tidak memajukan dan meningkatkan kemampuan rakyat.. Namun meski berbeda pendapat dari para penasehat ekonomi utama pemerintahan Soeharto seperti Wijojo, Hatta tetap memberi masukan pada para pembuat keputusan, antara lain dalam bentuk surat antara lain pada Gubernur Bank Indonesia, Radius Prawiro, Emil Salim sebagai Deputi Ketua Bapenas, Frans Seda yang menjabat Menteri Keuangan, Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan yang dijabat Hamengku Buwono IX. Salah satu pesannya adalah keprihatinannya pada arah kebijakan ekonomi yang ditempuh, yang tidak memperhatikan nasib rakyat.

Pada tahun 1970 Hatta diangkat sebagai Penasehat Presiden Soeharto dan Penasehat Komisi IV, yang diketuai oleh Wiloto. Pengangkatan ini dimaksudkan untuk melakukan pemberantasan korupsi. Kasus yang mendapatkan saran Hatta antara lain adalah yang menyangkut Pertamina – yang isinya masih belum diketahui secara publik. Rupanya dari bahan-bahan yang ada Hatta telah menangkap gelagat bahwa korupsi sudah menjadi budaya. Seingat Halida, ayahnya tak pernah menerima “tamu khusus”, setiap tamu yang akan datang ke rumahnya selalu ditanya maksud dan tujuannya terlebih dahulu. Hatta lebih sering menerima tamunya di kantor, karena itu “filter” seperti inilah yang membedakan ayahnya dengan banyak pejabat di Indonesia

Emil Salim pernah mengatakan, saat ini tipe kepemimpinan Bung Hatta sangat dibutuhkan. Karena hanya dirinya yang memiliki ciri kepemimpinan berupa penyerahan diri secara total, jujur dan bersih, berkomitmen penuh pada perbaikan nasib dan tingkat hidup rakyat kecil, menegakkan dan menjalankan secara konsekuen nilai-nilai demokrasi kerakyatan, serta mengutamakan rasio ketimbang emosi dan karena itu gandrung pada usaha pendidikan rakyat ketimbang agitasi membangkitkan emosi rakyat .

Kecemasan Bung Hatta pada gelagat korupsi ternyata menjadi kecemasan generasi-generasi berikutnya; korupsi menjadi sumber penyakit bangsa ini, sampai kita mendapat predikat salah satu bangsa terkorup di dunia. Sosok Bung Hatta layak menjadi inspirasi kita, agar kita tidak putus harapan akan adanya pejabat yang dapat konsisten menjalankan sumpah jabatannya serta mandat yang dipercayakan rakyat padanya.

*Sumber : Deliar Noor, Hati Nurani Bangsa - Tokoh Indonesia, dari Makam Bung Hatta - Seratus Tahun Bung Hatta - Berbagai sumber media - Wawancara Halida N.Hatta Jusuf - Wawancara Meuthia Hatta.

Contoh Keteladanan
Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally

Salah satu kisah mengugah dari Bung Hatta yang dikenang masyakarat adalah kisah tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Untuk itulah, maka dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.

The Bally Shoe, dari Swiss berdiri sejak 1851
Setelah itu, dia pun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Ball tersebut masih tersimpan dengan baik.

Andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah baginya untuk memperoleh sepatu Bally, misalnya dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya. Barangkali bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu dibelinya. Bisa saja ia memiliki saham di pabrik sepatu dan berganti-ganti sepatu baru setiap hari. Tetapi, ia tidak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu Bally yang tidak terbelinya hingga akhir hayat. Bila dilihat pada kondisi sekarang, seharusnya masa lalu juga demikian, tentu hal ini merupakan sebuah tragedi.

Seorang mantan wakil presiden, orang yang menandatangani proklamasi kemerdekaan, orang yang memimpin delegasi perundingan dengan Belanda –negara yang pernah menjajahnya—hingga Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak mampu hanya untuk sekadar membeli sepasang sepatu bermerek terkenal. Meski memiliki jasa besar bagi kemerdekaan negeri ini, Bung Hatta sama sekali tidak ingin meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain atau negara.

Menurut Jacob Utama, Pemimpin Umum Harian Kompas, segala yang dilakukan Bung Hatta sudah mencerminkan bahwa dia tidak hanya jujur, namun juga uncorruptable, tidak terkorupsikan. Kejujuran hatinya membuat dia tidak rela untuk menodainya dengan melakukan tindak korupsi. Mungkin banyak masyarakat berkomentar, “Iya, lha wong sepatu Bally harganya-kan selangit.”

Bung Hatta & Isteri
Namun lagi-lagi itulah, ternyata bukan hanya sepasang sepatu itu yang tidak mampu dibeli Hatta. Barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit yang juga sudah lama didambakan sang istri. Wah, mengapa bisa begitu? Ya, tak lain karena setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956, uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Bahkan saking kecilnya, sampai-sampai hampir sama dengan Dali, sopirnya yang digaji pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis.
Kisah Bung Hatta dan Mesin Jahit. Sewaktu Bung Hatta masih menjadi orang nomor dua di Republik ini, ternyata untuk membeli sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja. Istri beliau - Rahmi Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.

Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp 100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin jahit.

Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Rahmi kemudian bertanya pada suaminya kenapa tidak segera memberi tahu akan ada sanering. Dengan kalem Bung Hatta menjawab, itu rahasia negara jadi tidak boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri.
Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal. Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.

Sungguh mengagumkan. Apa yang dilakukan Bung Hatta adalah karena dia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. Dalam konteks itu pula, maka Bung Hatta pun tidak berusaha bekerja di berbagai perusahaan meski sebenarnya sangat memungkinkan. Dalam pandangannya, jika dia bekerja pada perusahaan, maka citra seorang mantan wakil presiden akan runtuh. Juga, jika dia menjadi seorang konsultan, maka sebenarnya dirinya sedang terjebak ke dalam bias persaingan usaha yang sarat dengan kepentingan.

Pemikiran yang luar biasa itulah yang dijalankan oleh Bung Hatta. Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Bung Hatta begitu hati-hati menggunakan kekuasaan.

Biodata dari Mohammad Hatta


Nama : Dr. Mohammad Hatta (Bung Hatta)
Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980
Istri : (Alm.) Rahmi Rachim
Anak : Meutia Farida, Gemala, Halida Nuriah

Gelar Pahlawan :
  • Bapak Koperasi Indonesia pada 17 Juli 1953
  • Pahlawan Proklamator RI tahun 1986

Pendidikan :
  •  Europese Largere School (ELS) di Bukittinggi (1916)
  •  Meer Uirgebreid Lagere School (MULO) di Padang (1919)
  •  Handel Middlebare School (Sekolah Menengah Dagang), Jakarta (1921)
  •  Gelar Drs dari Nederland Handelshogeschool, Rotterdam, Belanda (1932)
Karir :
  • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Padang (1916-1919)
  • Bendahara Jong Sumatranen Bond, Jakarta (1920-1921)
  • Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda (1925-1930)
  • Wakil delegasi Indonesia dalam gerakan Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, Berlin (1927-1931)
  • Ketua Panitia (PNI Baru) Pendidikan Nasional Indonesia (1934-1935)
  • Kepala Kantor Penasihat pada pemerintah Bala Tentara Jepang (April 1942)
  • Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (Mei 1945)
  • Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (7 Agustus 1945)
  • Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945)
  • Wakil Presiden Republik Indonesia pertama (18 Agustus 1945)
  • Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (Januari 1948 - Desember 1949)
  • Ketua Delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag dan menerima penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana (1949)
  • Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Kabinet Republik Indonesia Serikat (Desember 1949 - Agustus 1950)
  • Dosen di Sesko Angkatan Darat, Bandung (1951-1961)
  • Dosen di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1954-1959)
  • Penasihat Presiden dan Penasihat Komisi IV tentang masalah korupsi (1969)
  • Ketua Panitia Lima yang bertugas memberikan perumusan penafsiran mengenai Pancasila (1975)
Alamat Rumah Keluarga: Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat.


Foto-foto Bersama Keluarga

 
 
 
 
Sang isteri, Siti Rahmiati Hatta
*mixing: chillinaris

MARSINGGO - Dewan Banteng dan PRRI


Oleh : Syafri Segeh, Wartawan Senior Sumatera Barat
WALAUPUN antara Dewan Banteng yang dibentuk tanggal 20 Desember  1956, 52  tahun yang lalu, dan Pemerintah  Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang diproklamirkan oleh Dewan Perjuangan (bukan oleh Dewan Banteng) tanggal 15 Pebruari 1958, 50 tahun yang lalu, ibarat mata uang logam yang satu sisinya hampir sama dengan sisinya yang lain, namun berbeda tujuan, “seiring batuka jalan”.
Maksudnya walaupun Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Banteng di satu sisi, tetapi di sisi lain Ahmad Husein sebagai Ketua Dewan Perjuangan yang memproklamasikan PRRI. Dewan Banteng dibentuk bertujuan untuk membangun Daerah sedangkan PRRI membentuk Pemerintahan tandingan melawan Pemerintah Jakarta yang sah waktu itu.
Gagasan membentuk Dewan Banteng timbul di Jakarta pada 21 September 1956 dari sejumlah Perwira Aktif dan Perwira Pensiunan bekas Divisi IX Banteng di Sumatera Tengah dulu setelah mereka melihat nasib dan keadaan tempat tinggal para prajurit yang dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dalam perang Kemerdekaan melawan Belanda tahun 1945 -1950, keadaan Kesehatan amat sederhana, anak-anak mereka banyak yang menderita penyakit dan kematian.
Ada asrama yang ditinggalkan oleh KNIL (tentera Belanda), akan tetapi tidak mencukupi, karena jumlah mereka yang banyak. Para perwira aktif dan perwira pensiunan dari eks. Divisi Banteng juga melihat nasib masyarakat yang semakin jauh dari janji-janji dalam perang Kemerdekaan, hidup mereka semakin susah,tidak bertemu janji keadilan dan kemakmuran bersama itu.Pemerintah Pusat lebih mementingkan Daerah Pulau Jawa ketimbang Daerah diluar pulau Jawa dalam hal pembagian “kue” pembangunan, sedang daerah di luar pulau Jawa adalah penghasil devisa yang terbanyak.
Pertemuan sejumlah perwira aktif dan perwira pensiunan eks. Divisi Banteng di Jakarta itu kemudian dilanjutkan dengan mengadakan Reuni di Padang dari perwira-perwira aktif dan pensiunan eks. Divisi Banteng pada tanggal 20 –24 Nopember 1956 yang pada pokoknya membahas masaalah politik dan sosial ekonomi rakyat di Sumatera Tengah. Reuni yang dihadiri oleh sekitar 612 orang perwira aktif dan pensiunan dari eks. Divisi Banteng itu akhirnya membuat sejumlah keputusan yang kemudian dirumuskan di dalam tuntutan Dewan Banteng.
Untuk melaksanakan keputusan-keputusan Reuni itu,maka dibentuklah suatu Dewan pada tanggal 20 Desember 1956 yang dinamakan “ Dewan Banteng”mengambil nama Banteng dari Divisi Banteng yang sudah dibubarkan. Di dalam perang Kemerdekaan tahun 1945 -1950 melawan Belanda dulu di Sumatera Tengah dibentuk sebuah Komando militer yang dinamakan dengan Komando Divisi IX Banteng.
Sesudah selesai perang Kemerdekaan dan Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tanggal 27 Desember 1950, maka Komando Divisi Banteng ini diciutkan dengan mengirim pasukan-pasukannya ke luar Sumatera Tengah seperti ke Pontianak, Ambon, Aceh dan Jawa Barat. Pengalaman yang sangat menyedihkan dialami oleh Batalyon “Pagar Ruyung” yang sesudah bertugas di Ambon, lima dari delapan kompinya dipindahkan ke Jawa Barat. Pasukannya dilebur ke dalam Divisi Siliwangi dan hubungan dengan induk pasukannya Divisi Banteng diputus.
Terjadi berbagai hal sehingga ada yang meninggal dunia dan ditahan. Komando Divisi Banteng makin lama makin diciutkan, sehingga akhirnya tinggal satu Brigade yang masih memakai nama Brigade Banteng, di bawah pimpinan Letkol Ahmad Husein. Kemudian pada bulan April 1952 Brigade Banteng diciutkan menjadi satu Resimen yang menjadi Resimen Infanteri 4 di dalam Komando Tentera Teritorium (TT) I Bukit Barisan (BB) di bawah Komando Panglimanya Kolonel Simbolon.Letkol. Ahmad  Husein diangkat kembali menjadi Komandan Resimen Infanteri 4 TT I BB itu.
Pemecahan Batalion-batalion dan pembubaran Komando Divisi Banteng itu menimbulkan bibit-bibit dendam dari para pejuang perang Kemerdekaan melawan Belanda yang bernaung di bawah panji-panji Divisi Banteng itu. Pengurus Dewan Banteng terdiri dari 17 orang, yang terdiri dari 8 orang perwira aktif dan pensiunan, 2 orang dari Kepolisian dan 7 orang lainnya dari golongan sipil, ulama, pimpinan politik, dan pejabat.
Lengkapnya susunan Pengurus Dewan Banteng itu adalah :Ketua,Letkol, Ahmad Husein,Komandan Resimen Infanteri 4, Sekretaris Jenderal Mayor (Purn) Suleman, Kepala Biro Rekonstruksi Nasional Sumatera Tengah, sedangkan anggota-anggotanya adalah Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa, Kepala Polisi Sumatera Tengah, Sutan Suis, Kepala Polisi Kota Padang, Mayor Anwar Umar, komandan Batalion 142 Resimen 4. Kapten Nurmatias Komandan Batalyon 140, Resimen Infanteri 4. H. Darwis Taram Dt. Tumanggung, Bupati 50 Kota, Ali Luis Bupati d/p di Kantor Gubernur Sumatera Tengah, Syekh Ibrahim Musa Parabek Ulama, Datuk Simarajo, Ketua Adat (MTKAAM).
Kolonel (Purn) Ismael Lengah, Letkol (Purn) Hasan Basri (Riau), Saidina Ali Kepala Jawatan Sosial Kabupaten Kampar, Riau, Letnan Sebastian Perwira Distrik Militer 20 Indragiri, Riau, a. Abdulmanaf, Bupati Kabupaten Merangin, Jambi, Kapten Yusuf Nur, Akademi Militer, Jakarta dan Mayor Syuib, Wakil Asisten II Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta.
Selain itu Dewan Banteng didukung oleh segenap Partai Politik, kecuali Partai Komunis Indonesia (PKI), juga didukung oleh segenap lapisan masyarakat seperti para pemuda, alim ulama, cadiak pandai, kaum adat sehingga waktu itu lahirlah semboyan,” timbul tenggelam bersama Dewan Banteng”. (***)

MARSINGGO - PRRI/Permesta Bukan Pengkhianatan Terhadap Negara


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) atau yang dikenal dengan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) dinilai Ahli sejarah
Nina Herlina Lubis dan pengamat milite Salim Said, bukan sebuah gerakan pengkhianatan terhadap negara, melainkan bentuk koreksi untuk pemerintahan pusat pada waktu itu yang dipimpin Presiden Soekarno.

Soekarno pada saat itu sudah tidak bisa lagi diberikan nasihat dalam menjalankan pemerintahan sehingga terjadi ketimpangan sosial. Selain itu, presiden Soekarno pun juga sudah melanggar amanat undang-undang dan sudah dibumbung komuni (PKI) sehingga timbulah gerakan tersebut.

"Itu bukan pemberontakan, tetapi gerakan koreksi dari daerah terhadap pemerintah pusat karena sudah melanggar undang-undang, pemerintahan yang sentralistis, sehingga pembangunan di daerah menjadi terabaikan, dan menimbulkan ketidak adilan dalam pembangunan. Karena Soekarno sudah tidak mau mendengarkan masukan lagi, maka timbulah inisiatif biar kami saja yang menggantikan," tutur Sejarawan Nina Herlina Lubis di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (13/7/2011) seusai bedah buku Memoar Ventje H N Sumual.

Begitu juga dengan pengamat militer Salim Said, menurutnya PRRI/ Permesta tidak memiliki niatan untuk memisahkan diri dari Indonesia dan mengganti ideologi Pancasila ataupun bendera kebangsaan.

Selain itu, PRRI/ Permesta perlu dibedakan dengan gerakan-gerakan pemberontakan lain seperti DI/TII, RMS, dan GAM yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan merubah ideologi pancasila.

"PRRI itu tetap berada dalam Negara Kesatuan, benderanya merah putih, dan ideologinya pancasila. Jadi harus dibedakan dengan pemberontakan yang lainnya," ucap Salim.

Gerakan tersebut menurut Salim muncul dalam upaya memperbaiki pemerintahan di Indonesia. Dimana presiden Soekarno saat itu senantiasa terlibat dalam politik. Seharusnya pada saat pemerintahan parlementer saat itu, Soekarno tidak boleh bermain politik.

"Itu (PRRI) pemberontaka, tapi bukan pengkhianatan. Itu merupakan gerakan yang meberikan alternatif (untuk memperbaiki negara)," tegasnya.

Penulis: Adi Suhendi  |  Editor: Johnson Simanjuntak

Minggu, 05 Februari 2012

MARSINGGO - Syafrudin Prawiranegara, Presiden yang Terlupakan


Sebagai penjabat presiden,umumnya orang Indonesia hanya mengenal Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putrie dan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal masih ada dua lagi presiden Indonesia dan jarang sekali disebut. Yakni Syafrudin Prawiranegara dan Mr. Asaat.
Syafruddin Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara lahir di Banten, 28 Februari 1911. Beliau adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948.
Di masa kecilnya akrab dengan panggilan “Kuding”, dalam tubuh Syafruddin mengalir darah campuran Banten dan Minang. Buyutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan Raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Menikah dengan putri bangsawan Banten, lahirlah kakeknya yang kemudian memiliki anak bernama R. Arsyad Prawiraatmadja. Itulah ayah Kuding yang, walaupun bekerja sebagai jaksa, cukup dekat dengan rakyat, dan karenanya dibuang Belanda ke Jawa Timur.
Kuding, yang gemar membaca kisah petualangan sejenis Robinson Crusoe, memiliki cita-cita tinggi — “Ingin menjadi orang besar,” katanya. Itulah sebabnya ia masuk Sekolah Tinggi Hukum (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di Jakarta (Batavia).
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra
Ketika Belanda melakukan agresi militernya yang kedua di Indonesia pada tanggal 19 Desember 1949, Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogyakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.
Telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi di karenakan sulitnya sistem komunikasi pada saat itu, namun ternyata pada saat bersamaan ketika mendengar berita bahwa tentara Belanda telah menduduki Ibukota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember sore hari, Sjafruddin Prawiranegara segera mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr TM Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara”.
Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dijuluki “penyelamat Republik”. Dengan mengambil lokasi di suatu tempat di daerah Sumatera Barat, pemerintahan Republik Indonesia masih tetap eksis meskipun para pemimpin Indonesia seperti Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Sjafruddin Prawiranegara menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya yang terdiri dari beberapa orang menteri. Meskipun istilah yang digunakan waktu itu “ketua”, namun kedudukannya sama dengan presiden.
Sjafruddin menyerahkan mandatnya kemudian kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia sebagai negara bangsa yang sedang mempertaankan kemerdekaan dari agresor Belanda yang ingin kembali berkuasa.
Setelah menyerahkan mandatnya kembali kepada presiden Soekarno, Syafruddin Prawiranegara tetap terlibat dalam pemerintahan dengan menjadi menteri keuangan. Pada Maret 1950, selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, ia melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan Gunting Syafruddin.
PRRI
Akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat karena ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi dan juga pengaruh komunis (terutama PKI) yang semakin menguat, pada awal tahun 1958, Syafruddin Prawiranegara dan beberapa tokoh lainnya mendirikan PRRI yang berbasis di sumatera tengah dan ia di tunjuk sebagai Presidennya.

Dakwah
Setelah bertahun-tahun berkarir di dunia politik, Syafrudin Prawiranegara akhirnya memilih lapangan dakwah sebagai kesibukan masa tuanya. Dan, ternyata, tidak mudah. Berkali-kali bekas tokoh Partai Masyumi ini dilarang naik mimbar. Juni 1985, ia diperiksa lagi sehubungan dengan isi khotbahnya pada hari raya Idul Fitri 1404 H di masjid Al-A’raf, Tanjung Priok, Jakarta.
“Saya ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah,” ujar ketua Korp Mubalig Indonesia (KMI) itu tentang aktivitasnya itu.
Di tengah kesibukannya sebagai mubalig, bekas gubernur Bank Sentral 1951 ini masih sempat menyusun buku Sejarah Moneter, dengan bantuan Oei Beng To, direktur utama Lembaga Keuangan Indonesia.
Syafruddin Prawiranegara meninggal pada 15 Februari 1989 di makamkan di Tanah Kusir Jakarta Selatan.
1 Abad Syafrudin Prawiranegara
Jakarta-Puncak acara satu abad Sjafruddin Prawiranegara dipilih tanggal 28 Februari 2011, bertepatan tanggal kelahirannya, di Kantor Pusat Bank Indonesia (BI) di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Panitia Satu Abad Mr Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011) meluncurkan buku biografi Mr Sjafruddin Prawiranegara, Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia).
Panitia menyelenggarakan serangkaian acara satu abad Sjafruddin Prawiranegara melalui seminar-seminar bertema sosok dan kiprah Sjafruddin, utamanya selaku Presiden/Ketua PDRI, dibantu wakilnya Teuku Mohammad Hasan. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) turut memfasilitasi acara pengakuan jasa Sjafruddin sebagai Menteri Kemakmuran RI yang membentuk “Pemerintahan Republik Darurat” di Sumatera.
Menurut Ketua Panitia, Andi Mapetahang Fatwa atau AM Fatwa, serangkaian acara bermaksud menghimpun sejarah sosok dan kiprah Mr Sjafruddin Prawiranegara (1911-2011) yang tidak tercatat. “Ada serpihan sejarah yang tidak tercatat, apalagi ia belum menjadi pahlawan nasional,” kata Fatwa, juga anggota DPD asal DKI Jakarta, di Kompleks Parlemen (MPR/DPR/DPD), Senayan, Jakarta, Sabtu (26/2).
Fatwa menjelaskan, rencananya puncak acara dihadiri Wakil Presiden Boediono menggantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tengah melawat ke Brunei Darussalam. Setelah pengantar acara, Ketua Panitia meluncurkan buku biografi Sjafruddin diikuti sambutan Gubernur BI, pembacaan pidato Presiden, puisi oleh Taufiq Ismail, serta hiburan biola Idris Sardi dan lagu-lagu Bimbo.
Setelah puncak acara, panitia menyelenggarakan seminar sosok dan kiprah Sjafruddin di Gedung DPD di Jakarta, seminar pemikiran ekonomi Sjafruddin di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) di Semarang yang rencananya dihadiri mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim, seminar napak tilas perjuangan Sjafruddin di Padang Aro (Solok Selatan), serta seminar-seminar PDRI di Padang (Sumatera Barat) dan Banda Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam).
Fatwa juga mengatakan, peringatan satu abad Sjafruddin Prawiranegara bertujuan agar rakyat Indonesia, utamanya kaum muda yang relatif tidak begitu mengenal sosok dan kiprahnya, menjadi lebih mengenal Sjafruddin sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan. “Kami mengajak seluruh rakyat Indonesia agar berdamai dengan sejarah,” ujarnya, apalagi Pemerintah telah menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara.
Sampai saat ini Mr. Presiden kita belum juga mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, hal ini membuat kita terutama generasi muda berdosa jika tidak menghargai jasa-jasa beliau yang sangat penting berkenaan dengan penyelamatan Republik ini dari kekosongan kekuasaan.
Sumber :
wikipedia.com
voa-islam.com
jakartapress.com