Selasa, 13 Maret 2012
KEBERADAAN Partai NasDem yang menyodok ke posisi empat besar di bawah
Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat membuat partai-partai lain di Senayan
mulai memperhitungkan kehadiran partai baru tersebut.
Anggota Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul
Sembiring menilai pergerakan cepat Partai NasDem bisa menjadi barometer
semua partai yang ada di parlemen. Kehadiran Partai NasDem di posisi itu
menunjukkan masyarakat ingin mencari alternatif.
"Ini bisa menjadi introspeksi bagaimana kondisi PKS dan warning bagi semua partai," kata Tifatul yang juga Menteri Komunikasi dan Informatika di Jakarta, kemarin.
Tifatul mengomentari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI)
mengenai elektabilitas partai. Hasil survei LSI menunjukkan Partai
Golkar menempati urutan teratas dengan 17,7% disusul PDIP (13,6%),
Partai Demokrat (13,4%), dan Partai NasDem (5,9%). Enam partai lain yang
melorot ialah PPP (5,3%), PKB (5,3%), PKS (4,2%), Gerindra (3,7), PAN
(2,7%), dan Hanura (0,9%).
Menurut Tifatul, hasil LSI itu menggambarkan seandainya pemilu
dilakukan sekarang. Jadi, masih ada waktu partai memperbaiki diri hingga
2014.
Saat menanggapi hal yang sama, kader Gerindra Martin Hutabarat
mengatakan hasil survei LSI menunjukkan kehadiran NasDem yang mengusung
ide restorasi dan perubahan mulai masuk ke benak masyarakat. Martin
melihat hasil survei LSI itu bisa menjadi introspeksi internal setiap
partai.
"Bukan ancaman, tetapi kami siap berkompetisi secara fair. Ide perubahan sangat baik untuk politik," kata Martin.
Baik Partai Hanura, PAN, maupun PPP senada bahwa hasil LSI menjadi
bahan introspeksi. Ketua DPP PPP Arwani Tomafi mengaku terkejut dengan
hasil LSI itu. "Perlu dicermati tren pergeseran pemilih pemula beralih
ke Partai NasDem," ujarnya.
Ketua Fraksi PAN Tjatur Sapto Edi juga menganggap hasil LSI itu
sebagai masukan yang baik bagi internal PAN. Bagi Saleh Husin, Wakil
Sekjen Partai Hanura, hasil survei LSI itu akan melecut semangat kerja
kader Hanura. (*/X-4)
Posted on Mei 21, 2008 by A Nizami
Berapa biaya produksi bensin dari memompa dari perut bumi hingga sampai di SPBU/Pom Bensin?
Berikut rincian produksi minyak menjadi bensin dari Statistik Energi Resmi Pemerintah AS
Pada
tanggal 12 Mei 2008 biaya Distribusi, Marketing, dan keuntungan US$
2,52/barrel untuk Branded dan US$ 1,26/barrel untuk NonBranded.
Ada
pun Ongkos Pengilangan dan Keuntungan US$ 9,57/barrel untuk Branded
dan US$ 10,94/barrel untuk Unbranded. Total biaya pengilangan dan
distribusi terendah jadi US$ 10,94/barrel. Ini di AS yang tarif
Marketing dan gaji pegawainya puluhan kali lipat dari di Indonesia.
Menurut saya di Indonesia harusnya tidak lebih dari US$ 7/barrel.
Untuk Crude oil cost mereka memakai harga NYMEX (Pasar Komoditas New York) saat itu US$ 124,5/barrel
Setelah
itu biaya memompa minyak dari dalam bumi menurut BP Migas US$
1/barrel. Secara kasar jika kita asumsikan biayanya US$ 1-3/barrel maka
dengan memakai biaya kilang dan distribusi AS saja biayanya paling
mahal US$ 13,4/barrel.
Kwik Kian Gie menghitung biayanya US$ 10/barrel sementara Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy antara US$ 2-12/barrel.
Di
AS harga Bensin tanpa pajak per tanggal 12 Mei 2008 Rp 7.960/liter.
Ditambah pajak sekitar 16,5% (Rp 1.582/liter) harganya menjadi Rp
9.541/liter.
Dari data lembaga yang sama, pada tahun 2006
konsumsi minyak Indonesia 1,2 juta bph dan produksi 1,1 juta bph.
Sehingga sisanya (0,1 juta bph) harus impor. Agar biaya impor lebih
murah, akan lebih baik jika Indonesia beli langsung ke negara-negara
Timur Tengah ketimbang harus beli dari AS atau Singapura.
Jika
ada yang punya link rincian biaya produksi bensin di Indonesia
silahkan beri linknya. Kalau bisa situs pemerintah atau media massa
yang credible.
JAKARTA -
Wakil Ketua Fraksi Gerindra di DPR, Ahmad Muzani mengatakan fraksinya
sudah beketetapan untuk menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Selain menolak kenaikan harga BBM, Fraksi Gerindra juga memutuskan
untuk aktif melakukan lobi menolak kenaikan BBM kepada fraksi-fraksi
partai politik di DPR yang tidak tergabung dalam Sekretariat Gabungan
(Setgab) Koalisi Pendukung Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
"Gerindra menolak kenaikan harga BBM dan melakukan lobi terhadap
fraksi-fraksi di luar koalisi agar juga mengambil sikap serupa," kata
Ahmad Muzani, di gedung DPR, Senayan Jakarta, Senin (5/3).
Menurut Muzani, kalau usulan kenaikan harga BBM diloloskan DPR pasti
membawa konsekuensi buruk bagi 135 juta warga negara yang hidup dalam
kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp 486 ribu per orang per bulan.
"Jika BBM bersubsidi dicabut hingga harga eceran premium menjadi Rp
6.000, 135 juta warga negara tersebut di atas akan mengalami inflasi
antara 15 sampai 20 persen sebagai konsekuensi dari naiknya biaya
transportasi 30 persen dan makanan naik 15 persen. Kondisi ini sangat
mencekik kelompok masyarakat dengan penghasilan Rp486 ribu per orang per
bulan," ujarnya.
Ahmad Muzani mengatakan wacana Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang akan
dinaikan menjadi Rp150 ribu per KK per bulan selama sembilan kepada 17,5
KK (sekitar 70 juta jiwa) dipastikan tidak akan banyak menolong karena
ada sekitar 65 juta jiwa yang tidak masuk dalam daftar dengan hidup
semakin tercekik.
Ia lantas membandingkan subsidi BBM dengan alokasi belanja birokrasi
dalam tujuh tahun terakhir. "Kenaikan belanja birokrasi membengkak 400
persen dari Rp187 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp733 triliun dalam
APBN 2012," ujar Muzani.
Padahal, lanjutnya, jumlah birokrasi Indonesia itu hanya sekitar 4,6
juta orang. Artinya setiap aparat birokrasi dapat porsi belanja di APBN
sebesar lebih dari Rp150 juta per tahun.
Sementara subsidi BBM dalam tahun 2005 hingga 2012 hanya naik sekitar 29
persen. "Pada 2005 subsidi BBM di APBN berjumlah Rp95,6 triliun dan
menjadi Rp123,6 triliun pada tahun 2012. Ini sebuah fakta yang sangat
menyakiti kita semua karena naiknya belanja birokrasi itu hanya akan
dinikmati oleh sekitar 4,6 juta birokrat, imbuhnya. (fas/jpnn)
Kembali Jakarta digoncang bom
JW Marriot restoran dan Ritz Carlton jadi sasaran
Pekikan teriakan jeritan membahana
Semua berlarian menyelamatkan diri dari maut yang mengerikan
Panik takut marah haru tak terkatakan
Percikan darah reruntuhan bangunan serpihan tubuh berserakkan .
Rintihan korban cabikan badan potongan lengan sangat mengerikan
Semua porak peranda bagaikan kesetanan
Ibu Pertiwi menangis pilu
Suara tersendat dikerongkongan sendu
Pemilu belum selesai berlalu
Adakah misteri dibelakang itu ?
Rakyat harus dikasi tahu
Negeri ini diintai mangsa pemburu
Hutan gunung danau laut mereka perlu
Kini saatnya kau acungkan tinju
Apakah yang lemah harus ditekan ?
Dimanakah kemanusiaan dan keadilan ?
Patutkah hal demikian dilakukan ?
Aku serahkan kepada engkau ya kawan .
Jangan kau ragu dan terbujuk penipu
Negeri ini diperjuangkan untuk anak cucu
Ingat darah dan sumpah para pahlawan pendahulu
Kalau perlu kau mati untuk itu .
Juli 2009
by : S.Koto
Liputan VOA : Bom Lagi, Bom Lagi.....Ada Apa Indonesia?
Jum’at pagi 17 Juli 2009 ketika jarum jam menunjukkan pukul
07:47 saat aktifitas pagi mulai ramai untuk yang kedua kalinya bom
mengguncang Hotel
JW Marriot, Mega Kuningan Jakarta setelah enam tahun yang lalu, namun
kini yang menjadi sasaran bomber adalah Lobby Hotel samping Restoran
Plaza Mutiara, dan berselang hanya sepuluh menit saja tepat pada pukul
07:57 Restoran Airlangga Hotel Rizt Carlton yang berjarak kurang lebih
200 meter dari Hotel JW Marriot turut meledak, menurut Kapolda Metro
Jaya Mayjen Polisi Wahyono dari hasil olah TKP (tempat kejadian perkara)
yang dilakukan, POLDA Metro Jaya telah berhasil mengidentifikasi jenis
bomnya, yaitu Black Powder Low Explosif bercampur Gotri, Mur dan bahan
lainnya, dua bom di JW Marriot, satu bom di Rizt Carlton, dan dilakukan
dengan cara bom bunuh diri, masih menurut Kapolda sejumlah korban hingga
saat Konferensi Press berjumlah 61 orang, dengan rincian 8 orang tewas
(tujuh korban meninggal di lokasi kejadian, satu orang meninggal di
rumah sakit), 53 orang luka dan masih dalam perawatan.
Namun kepastian berapa jumlah korban sebenarnya sumber dari
berbagai media berbeda misalnya Tv One menyebutkan 9 korban meninggal
Namun kepastian berapa jumlah korban sebenarnya sumber dari berbagai
media berbeda misalnya Tv One menyebutkan 9 korban meninggal, sementara
SCTV menyebut 14 koban meninggal, Kapolda Metro Jaya menjelaskan dugaan
sementara pelaku bom bunuh diri adalah penghuni hotel atau tamu hotel
yang menyamar. Dalam tayangan CCTV dan dari kamera blackberry seperti
yang tayangkan TV One tampak seseorang yang dicurigai sebagai pelaku
membawa tas rangsel di dada dan sambil menarik tas koper sedang lewat
dan beberapa detik kemudian terjadilah ledakan dahsyat tersebut.
Mengapa Bom itu terjadi di Jakarta lagi, menurut Ali Mochtar Ngabalin
anggota DPR komisi I (satu) yang menangani masalah intelijen ia
menilai pemerintah dalam hal ini intelijen dan aparat keamanan
kecolongan dan lemah dalam mengantisipasi kejadian seperti itu sehingga
berdampak kurang baik bagi Indonesia di mata luar negeri. Bagaimana
mungkin hotel binang lima dengan pengaman tiga lapis bisa kecolongan.
Dia juga menyayangkan pernyataan presiden SBY di Istana Negara dalam
mensikapi kejadian di JW Marriot dan Rizt Carlton bahwa kejadian
tersebut berkaitan dengan pilpres, pernyataan bahwa ada pihak-pihak
yang tidak menerima hasil pilpres adalah statemen memperkeruh suasana,
demikian kata Ali Mochtar Ngabalin, “ mestinya sudah cukup mewakili
pernyataan Menhankam bahwa ada pihak seperti teroris misalnya yang tidak
suka melihat Indonesia aman dan damai “ demikian cetusnya.
Hal
senada juga di ungkapkan oleh pengamat politik Ikrar Nusa Bakti yang
saat kejadian ledakan bom sedang menginap di hotel itu bersama
keluarganya, “ tidak seharus seorang presiden mengeluarkan peryataan
seperti itu sebab akan semakin memperkeruh keadaan, dan itu akan
tertujuh kepada Prabowo atau Wiranto, padahal SBY hampir dipastikan akan
disyahkan dan dilantik sebagai presiden, akan lain persoalannya dan
dampaknya jika peryataan itu disampaikan oleh pengamat, seharusnya
presiden tidak mengaitkan kasus ini dengan politik ” begitu tambahnya.
Di tempat lain Megawati Sukarno Putri yang juga kontestan pilpres
mengatakan jangan mengait-ngaitkankan kasus peledakan tersebut dengan
politik pilpres, dia juga meminta agar pemerintah mengusut secepatnya
agar dapat diketahui siapa sebenarnya dalang dan pelaku peledakan.
Sementara itu Presiden SBY yang tadinya berencana melihat langsung
tempat kejadian ledakan batal hadir dan berganti menjenguk para korban
ledakan di Rumah Sakit MMC.
(Heri Jauhari/voa-islam.com)
INILAH.COM, Jakarta- Bekas Bendahara Umum Partai Demokrat M
Nazaruddin sebelum sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)
kembali menebar tudingan. Kali ini Didi Irawadi Syamsudin dituding
menerima US$5.000. Nazaruddin putar cerita lama?
Bekas
kader Partai Demokrat Nazaruddin kembali berulah. Sebelum memasuki ruang
sidang di Pengadilan Tipikor, Nazaruddin yang mulanya berbicara soal
rencana konfrontasi kesaksian Angelina Sondakh dan Mindo Rosalina
Manulang, namun tiba-tiba menyebut nama Ketua Departemen Pemberantasan
Korupsi DPP Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin.
"Dia (Didi
Irawadi Syamsudin) bilang tidak pernah korupsi. Tapi pada saat reses, ia
pernah terima US$5.000," ujar Nazaruddin di Pengadilan Tipikor, Rabu
(29/2/2012). Nazar menyebutkan Didi Irawadi menerima uang US$5.000 pada
2010 saat dirinya masih menjadi anggota Komisi Hukum DPR RI.
Nazar
menantang, bila Didi berani membantah informasi yang ia sampaikan maka
dirinya akan membongkar aksi Didi. "Didi sebagai koordinator yang
membagi-bagikan kepada anggota yang lain. Yang lain juga nanti saya
buka," ancam Nazaruddin.
Ketika dikonfirmasi, Ketua DPP Partai
Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin mengatakan dirinya tidak terlalu serius
merespons tudingan Nazaruddin. Dia menganggap, pernyataan Nazaruddin
mengulang kekeliruan sebelumnya. "Tuduhan-tuduhan Nazar selama ini
banyak juga yang keliru," ujar Didi melalui BlackBerry Messenger (BBM)
kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (29/2/2012).
Lebih
lanjut Didi menyebutkan jika tuduhan itu benar, tidak mungkin ia selama
ini bersikap kritis dalam kasus yang dihadapi Nazaruddin. Menurut dia,
jika ia menerima uang dari Nazaruddin, maka ia lebih baik diam cari
aman. "Tentu saya tidak mungkin bersikap kritis pada kasus Nazar," kelit
putera Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin ini.
Pernyataan
Nazaruddin soal pembagian uang sebesar US$5.000 sejatinya bukan cerita
baru. Praktik tebar uang ini pernah dilaporkan mantan anggota Komisi
Hukum DPR dari Fraksi Partai Demokrat almarhum Sutjipto. "Pak Sujtipto
pernah melaporkan praktik pemberian US$5.000 ke KPK sebagai
gratifikasi," ujar sumber yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat di
Komisi Hukum belum lama ini kepada INILAH.COM di gedung DPR, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta.
Dia
mengakui, pemberian uang sebesar US$5.000 memang disebar secara merata
ke seluruh anggota Komisi Hukum DPR. Pemberian uang tersebut tidak
diketahui apa alasan pemberiannya. "Ya dikasih saja, dibagi-bagi waktu
menjelang reses. Kita tidak tahu uang apa itu," ujarnya mewanti agar
namanya tidak ditulis. [mdr]