Minggu, 25 Desember 2011
Jumat, 23 Desember 2011
Marsinggo - Seperti Apa Rumah Mewah Nunun di Bangkok?
Senin, 19 Desember 2011 | 05:28 WIB
TEMPO.CO, - Rumahku, surgaku. Prinsip itu rupanya juga dipegang oleh Nunun Nurbaetie, orang yang disangka membagikan uang suap dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Miranda S. Goeltom. Meski dalam pelarian, Nunun tetap tak bisa melepaskan gaya mewahnya. Itulah sebabnya saat bersembunyi di Bangkok, Thailand, dia memilih kompleks perumahan Aqua Divina Urbano. Ini semacam kawasan Menteng bagi Bangkok.
Kawasan permukiman mewah ini jaraknya cuma 12 kilometer dari Bandar Udara Suvarnabhumi atau hanya 20 menit perjalanan. Letaknya di timur pusat Kota Bangkok, Thailand. Jika naik taksi dari bandara, ongkosnya amat murah untuk kelas kota besar. Hanya 100 baht atau setara dengan Rp 30 ribu.
Kompleks perumahan Aqua Divina Urbano, permukiman di mana Nunun tinggal, adalah hunian eksklusif. Komplek elite itu berada di Distrik Saphan Sung. Distrik ini memang banyak dimanfaatkan pengembang properti mewah. Kawasan perumahan ini seluas 28 kilometer persegi. Di kompleks itu, Nunun tinggal di Jalan Nantawan 5.
Layaknya perumahan mewah, penjagaan di kompleks Aqua Divina Urbano juga cukup ketat. Tiga petugas keamanan berpakaian putih-hitam tampak berjaga-jaga di pos penjagaan.
Seluruh tamu yang masuk kompleks wajib lapor. Apalagi kendaraan umum seperti taksi. Bukan taksi pun, petugas penjaga di pos utama selalu memelototi setiap kendaraan yang masuk. Tak terkecuali Tempo, yang Kamis, 15 Desember 2011 lalu, sedang menyelidiki "surga" persembunyian Nunun sekaligus rumah terakhir sebelum polisi Thailand menjemputnya dan menyerahkannya ke KPK di atas pesawat Garuda GA 867. (Lihat: Beginilah Penangkapan Nunun di Bangkok Versi KPK)
Nunun dibawa pulang ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 867 pada pukul 14.30 waktu Bangkok. Kemudian tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 17.45 WIB. Sempat menghuni salah satu sel di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Nunun dilarikan ke rumah sakit ketika mau diperiksa KPK.
Bernomor 98/34, rumah yang ditinggali Nunun bergaya Mediterania dengan dominasi warna krem. Rumah itu terletak tak jauh dari gerbang utama, sekitar 300 meter. Bangunan dua lantai itu memiliki tiga kamar utama dan sebuah kamar pembantu. Garasinya bisa menampung dua mobil.
Saat Tempo berkunjung, rumah seluas 79 wah persegi atau 316 meter persegi (1 wah persegi = 4 meter persegi) yang terletak paling ujung di deret kiri jalan buntu itu sunyi. Tak ada aktivitas. Pun juga tetangga kiri dan kanan. Pagarnya tertutup rapat-rapat. Sepeninggal Nunun, rumah tersebut dibiarkan melompong.
Seorang penjaga tergopoh-gopoh menyusul Tempo. Setelah memarkir sepeda ontelnya, ia menghampiri. “Apakah Nunun Nurbaetie tinggal di sini?” tanya Tempo. “Who?” tanyanya. “Nunun Nurbaetie,” kata Tempo, seraya menyodorkan kertas bertuliskan nama tersangka suap cek pelawat itu. “No, no, no,” kata si petugas seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Ditanya berulang-ulang, si petugas berkukuh tak mengetahui siapa pemilik atau penyewa rumah itu.
Menolak menyebutkan siapa pemiliknya, seorang staf pemasaran perumahan yang berkantor di dekat pos penjagaan kedua juga mengaku tak tahu siapa penghuninya belakangan ini. Seorang petugas pemasaran perumahan di dekat pos II juga menggeleng waktu ditanya.
Berdasarkan penelusuran Tempo di Thailand, rumah yang ditinggali Nunun disewa atas nama orang lain. Menurut sumber ini, si pengontrak adalah seorang pria kulit putih warga negara Amerika Serikat (Lihat: Pelindung Nunun Orang Amerika). Pria inilah yang melindungi Nunun selama hampir dua tahun ini. Sebulan lalu, pria pengusaha ini membawa Nunun ke rumah itu.
Namun peruntungan Nunun agaknya sudah habis. Ia disergap polisi setempat di rumah 98/34 ketika sang pengusaha sedang tak mengawalnya. Siapa sebenarnya lelaki ini? Baca selengkapnya di majalah Tempo pekan ini.
ANTON SEPTIAN (BANGKOK)
Minggu, 18 Desember 2011
Marsinggo - Iran Berbagi Rahasia AS dengan Rusia & China?
Nydailynews.com
Oleh: Vina Ramitha
Rabu, 14 Desember 2011 | 12:12 WIB
INILAH.COM, Washington – Ada kemungkinan, Iran akan berbagai rahasia di balik pesawat mata-mata Amerika Serikat (AS) yang jatuh di wilayahnya dengan dua sekutu, Rusia dan China. Benarkah?
Pemerintah AS, seperti dinyatakan Presiden Barack Obama, meminta Iran mengembalikan bangkai pesawat siluman mata-mata RQ-170 Sentinel yang jatuh di wilayah negara itu beberapa hari lalu. Iran telah menolaknya mentah-mentah.
Banyak pakar mengkhawatirkan kemampuan Iran menggali informasi dari Sentinel. Menurut Pemimpin Redaksi Jane’s International Defence Review Nick Brown, Iran menguasai reverse engineering dan memiliki kapabilitas di luar perkiraan Barat, tanpa bantuan pihak asing.
Namun, berbagi platform tersebut dengan negara-negara sekutunya, seperti Rusia dan China, memberi Iran kekuatan politik baru.
Jika bicara tentang Iran, kata Brown, apa saja mungkin terjadi. “Secara teori, mereka bisa menyalin platform dasar Sentinel. Tapi, cara mengendalikan dan avioniknya yang membuat tiruan Iran nantinya berfungsi dengan baik atau tidak,” katanya.
Periset senior Royal Services Institute Elizabeth Quintana berpendapat, semua teknologi tanpa awak akan amat penting bagi Iran, Rusia dan China. Seberapa bergunanya Sentinel, menurutnya, ditentukan apakah ada mekanisme self destruction atau tidak.
“Dari cuplikan video, sepertinya Sentinel ditemukan utuh. Jadi, banyak informasi berharga yang bisa dikeruk. Saya tak tahu pasti kemampuan Irak. Tapi, saya rasa kita tak perlu bertanya tentang kemampuan Rusia dan China,” tandasnya.
Meski tak menutup kemungkinannya, belum ada tanda-tanda Iran akan berbagi 'hadiah' ini dengan Rusia dan China. Namun yang jelas, mereka takkan mengembalikan Sentinel hingga puas 'bermain' dengannya
Jumat, 16 Desember 2011
Rabu, 14 Desember 2011
Marsinggo - Dipimpin Jenderal, Lembaga Adat Lampung Ngadu ke DPR
AKARTA (Pos Kota) – Lembaga Adat Megoupak asal Lampung mendatangi Komisi III DPR RI untuk mengadukan peristiwa pembantaian warga sipil oleh aparat yang telah terjadi sejak tahun 2009 hingga saat ini.
Rombongan yang dipimpin juga purnawirawan TNI Mayjen Saurip Kadi terlihat melakukan rapat dengan Komisi Hukum DPR RI yang dipimpin oleh Anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo. Kepada DPR RI mereka meminta keadilan hukum ditegakkan setegak-tegaknya, menindak aparat yang melakukan pembantaian.
“Mohon menjadi kepedulian wakil rakyat. Cara-cara mafia merampas hak warga sipil harus ditindak tegas, agar keadilan dapat ditegakkan setegak-tegaknya,” tegas Saurip Kadi di Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, Rabu (14/12/2011).
Ketua Tim Advokasi Lembaga Adat Magoupak, Bob Hasan, menuturkan kronologis adanya pembantaian dan kekerasan sadis di Lampung. Diawali saat sebuah perusahaan bernama PT. SI milik warga negara Malaysia bernama BS alias Abeng bermaksud melakukan perluasan lahan. Tapi upaya PT. SI membuka lahan untuk menanam kelapa sawit dan karet selalu ditentang penduduk setempat dan terjadi sejak tahun 2003.
“Penduduk yang tadinya menanam sengon, albasia dan lainnya menolak kehadiran mereka,” terang Bob.
Menghadapi penolakan warga, selanjutnya PT SI membentuk PAM Swakarsa dengan dibekingi aparat kepolisian untuk mengusir penduduk. Justru pasca adanya PAM Swakarsa terjadilah beberapa pembantaian sadis dari tahun 2009 hingga 2011.
Kurang lebih 30 orang sudah menjadi korban pembantaian sadis dengan cara ditembak, disembelih dan disayat-sayat. Ratusan orang mengalami luka-luka, bahkan ada yang mengalami trauma berat.Hukum rimba terjadi di negara yang mengedepankan hukum di atas segala-galanya ini.
“Kejadian terjadi di Mesuji dan Sodong di Lampung paling ujung juga Tulang Bawang. Kalau penyembelihan itu terjadi awal Januari 2011, rincian korban 30 orang tewas sejak 2009-2011. Beberapa orang stres karena melihat anggota keluarganya dibantai di hadapannya,” tutur Bob.
Di depan Komisi III DPR RI, video pembantaian dipertontonkan dan membuat miris mereka yang menonton. Video itu terlihat gambar adanya pembantaian sadis. Beberapa korban dari masyarakat ada yang disembelih kepalanya kemudian tubuhnya digantung di tiang. Tak hanya itu, ada yang ditembak di kaki juga ke kepalanya. Tontonan mengerikan itu sempat menjadi pusat perhatian.
Anggota Komisi III DPR yang hadir terlihat takut dan enggan menonton video sampai rampung. “Sudah-sudah, ini mengerikan sekali,” ucap Anggota Komisi III DPR, Ahmad Yani seraya meminta video distop.
(prihandoko/sir)
Rombongan yang dipimpin juga purnawirawan TNI Mayjen Saurip Kadi terlihat melakukan rapat dengan Komisi Hukum DPR RI yang dipimpin oleh Anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo. Kepada DPR RI mereka meminta keadilan hukum ditegakkan setegak-tegaknya, menindak aparat yang melakukan pembantaian.
“Mohon menjadi kepedulian wakil rakyat. Cara-cara mafia merampas hak warga sipil harus ditindak tegas, agar keadilan dapat ditegakkan setegak-tegaknya,” tegas Saurip Kadi di Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, Rabu (14/12/2011).
Ketua Tim Advokasi Lembaga Adat Magoupak, Bob Hasan, menuturkan kronologis adanya pembantaian dan kekerasan sadis di Lampung. Diawali saat sebuah perusahaan bernama PT. SI milik warga negara Malaysia bernama BS alias Abeng bermaksud melakukan perluasan lahan. Tapi upaya PT. SI membuka lahan untuk menanam kelapa sawit dan karet selalu ditentang penduduk setempat dan terjadi sejak tahun 2003.
“Penduduk yang tadinya menanam sengon, albasia dan lainnya menolak kehadiran mereka,” terang Bob.
Menghadapi penolakan warga, selanjutnya PT SI membentuk PAM Swakarsa dengan dibekingi aparat kepolisian untuk mengusir penduduk. Justru pasca adanya PAM Swakarsa terjadilah beberapa pembantaian sadis dari tahun 2009 hingga 2011.
Kurang lebih 30 orang sudah menjadi korban pembantaian sadis dengan cara ditembak, disembelih dan disayat-sayat. Ratusan orang mengalami luka-luka, bahkan ada yang mengalami trauma berat.Hukum rimba terjadi di negara yang mengedepankan hukum di atas segala-galanya ini.
“Kejadian terjadi di Mesuji dan Sodong di Lampung paling ujung juga Tulang Bawang. Kalau penyembelihan itu terjadi awal Januari 2011, rincian korban 30 orang tewas sejak 2009-2011. Beberapa orang stres karena melihat anggota keluarganya dibantai di hadapannya,” tutur Bob.
Di depan Komisi III DPR RI, video pembantaian dipertontonkan dan membuat miris mereka yang menonton. Video itu terlihat gambar adanya pembantaian sadis. Beberapa korban dari masyarakat ada yang disembelih kepalanya kemudian tubuhnya digantung di tiang. Tak hanya itu, ada yang ditembak di kaki juga ke kepalanya. Tontonan mengerikan itu sempat menjadi pusat perhatian.
Anggota Komisi III DPR yang hadir terlihat takut dan enggan menonton video sampai rampung. “Sudah-sudah, ini mengerikan sekali,” ucap Anggota Komisi III DPR, Ahmad Yani seraya meminta video distop.
(prihandoko/sir)
Selasa, 13 Desember 2011
Marsinggo - Penusuk Kameramen TV One Ngaku Diperintahkan Jin
Laporan Wartawan Tribunnews.com : Adi Suhendi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Entah apa yang ada di pikiran Adil Firmansyah. Tiba-tiba ia menyerang kru Apa Kabar malam TV One yang sedang shooting di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Senin (12/12/2011) sore sekitar pukul 07.30 WIB.
Saat ditanya wartawan, mengenai maksudnya menyerang kru TV One dengan pisau dapur Adil malah menjawab ngelantur. Pria asal Cilacap tersebut tidak memberikan keterangan yang rasional.
"Saya disuruh sama Allah, jin saya yang menyuruh. Yang membela saya. One itu satu, satu itu Allah," katanya saat diamankan petugas di Wisma Nusantara.
Adil tampak seperti orang kesurupan, ia meloncat palang pintu keluar masuk kendaraan dari Wisma Nusantara dan langsung menyerang kru TV One secara membabi buta dengan menggunakan sebilah pisau dapur.
Andri (24) Pengarah Lapangan Apa Kabar Indonesia Malam menuturkan saat kejadian shooting sedang berlangsung. Ketika acara sedang diselingi iklan, tiba-tiba Adil masuk lewat portal depan.
"Ia melompati portal depan kemudian masuk. Lalu ia mengeluarkan pisau yang berada di dalam jaketnya," ucapnya
Adil pun langsung berteriak. "Diam lho semua, Allahuakbar," kata Andri menirukan kata-kata Adil.
Karena keadaan lantai yang licin, Adil pun sempat jatuh dan tasnya terlempar, tetapi Adil justru mengejar Dadang seorang kru supporting kameramen bernama Dadang hingga perut bagian kanannya terkena sabetan pisau.
"Saya kemudian masukin Grace Natalie (pembawa acara kabar Indonesia malam) ke dalam ruangan," tutur Andri.
Kemudian, pelaku yang masuk ke Wisma Nusantara melalui pintu depan, langsung dihadang Abdul seorang petugas keamanan dan perkelahian pun terjadi. Beruntung Dadang hanya terkena sabetan pisau Adil di celananya saja. "Dia (pelaku) jatuh, sehingga pisaunya lepas," ujarnya.
Akhirnya perlawanan pelaku berakhir, sehingga pria putih berambut panjang tersebut bisa diringkus kru TV One bersama petugas keamanan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Entah apa yang ada di pikiran Adil Firmansyah. Tiba-tiba ia menyerang kru Apa Kabar malam TV One yang sedang shooting di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Senin (12/12/2011) sore sekitar pukul 07.30 WIB.
Saat ditanya wartawan, mengenai maksudnya menyerang kru TV One dengan pisau dapur Adil malah menjawab ngelantur. Pria asal Cilacap tersebut tidak memberikan keterangan yang rasional.
"Saya disuruh sama Allah, jin saya yang menyuruh. Yang membela saya. One itu satu, satu itu Allah," katanya saat diamankan petugas di Wisma Nusantara.
Adil tampak seperti orang kesurupan, ia meloncat palang pintu keluar masuk kendaraan dari Wisma Nusantara dan langsung menyerang kru TV One secara membabi buta dengan menggunakan sebilah pisau dapur.
Andri (24) Pengarah Lapangan Apa Kabar Indonesia Malam menuturkan saat kejadian shooting sedang berlangsung. Ketika acara sedang diselingi iklan, tiba-tiba Adil masuk lewat portal depan.
"Ia melompati portal depan kemudian masuk. Lalu ia mengeluarkan pisau yang berada di dalam jaketnya," ucapnya
Adil pun langsung berteriak. "Diam lho semua, Allahuakbar," kata Andri menirukan kata-kata Adil.
Karena keadaan lantai yang licin, Adil pun sempat jatuh dan tasnya terlempar, tetapi Adil justru mengejar Dadang seorang kru supporting kameramen bernama Dadang hingga perut bagian kanannya terkena sabetan pisau.
"Saya kemudian masukin Grace Natalie (pembawa acara kabar Indonesia malam) ke dalam ruangan," tutur Andri.
Kemudian, pelaku yang masuk ke Wisma Nusantara melalui pintu depan, langsung dihadang Abdul seorang petugas keamanan dan perkelahian pun terjadi. Beruntung Dadang hanya terkena sabetan pisau Adil di celananya saja. "Dia (pelaku) jatuh, sehingga pisaunya lepas," ujarnya.
Akhirnya perlawanan pelaku berakhir, sehingga pria putih berambut panjang tersebut bisa diringkus kru TV One bersama petugas keamanan.
Langganan:
Komentar (Atom)
