Rabu, 16 November 2011

Marsinggo - Sitemap Generator 3.0.6

9 Januari 2011 ·
A1 Sitemap Generator 3.0.6 | 6.11 Mb
Automate tasks such as scan website, build sitemap and FTP sitemap upload.A1 Sitemap Generator creates sitemaps for your website, be that HTML, Google XML or ASP.Net sitemaps. Rich template support for generating sitemaps and near-endless scanning options.

The scanning engine stores vast amounts of data so that you can, among other things, view full report on broken and redirected links (wherefrom and whereto). This data is e.g. used when generating Google XML sitmaps (e.g. when defining priority).

A bonus utility in A1 Sitemap Generator is an integrated FTP client that will allow you to FTP upload your sitemaps. It is possible to automate and control program through the command line.

This means you can have a task scheduler (e.g. scripts or batch files) to launch program at given intervals. You can automate tasks such as scan website, build sitemap and FTP sitemap upload.

Here are some key features of "A1 Sitemap Generator":

Website crawler options - scan large and complex websites:
· Tune crawler performance and server load using simultaneous connections.
· Pause and start website scans. Easy to resume and refresh crawling.
· Use include and exclude filters to control which files to crawl and list.
· Follow all kinds of references including redirects, frames, javascripts and images.
· Login through most post form and baisc authentication user access systems.
· Scan a website from multiple start paths. Useful for websites not fully crosslinked.
· Alias paths during scan, e.g. http://www.example.com and http://example.com.
· Detect and remove standard and custom session IDs in urls.

Create sitemaps of any website:
· Everything from small to giant websites with many thousands of pages.
· Local and online websites on internet, localhost, LAN, CD-ROM and disks.
· Static and dynamic websites such as portals, online stores, blogs and forums.

Sitemap builder options - make text, HTML, RSS and XML sitemaps:
· Build multi-page and multi-column HTML sitemaps, all in one.
· Includes rich HTML sitemap templates. Customize layout and code.
· Can calculate Google XML sitemap priority values for all pages in website.
· Allows to change the root path used. Useful if scanning localhost website copies.
· Save bandwidth with easy splitting and GZip compression of XML sitemap files.

Sitemap generator tools - view broken links and automate website scan:
· View normal, broken and redirected links found in website scan.
· View reports within all directories about files found and response codes.
· Integrated FTP sitemap upload. Can also ping and notify Google, Yahoo etc. of sitemap changes.
· Automate our sitemap generator tool through command line, task scheduler, scripts and batch files.
· Command line interface includes load project, scan website, build sitemap, FTP upload and sitemap pings.

Requirements:

· Internet connection
  What's New in This Release:
· Improved detection of HTML5 and XML tags that designate "charset" values.

Homepage: http://www.microsystools.com/products/sitemap-generator/
Link Download: http://hotfile.com/dl/94764862/7ffcca6/A1Sitemap.rar.html

Read more: http://aspal-putih.blogspot.com/2011/01/sitemap-generator-306.html#ixzz1drvuSCxW
Under Creative Commons License: Attribution

Marsinggo - Partai Demokrat :Politik Konspirasi dengan Tradisi Mafia

Posted by surya syam on November 13, 2011 at 2:15 PM Delete
delete
  Overlays edit  

Ditulis oleh : Jesus S. Anam
Tindakan politik rahasia untuk mencuri kekuasan dan memanfaatkannya tiba-tiba bocor ke publik. Tidak tanggung-tanggung, dua pemain yang sudah teridentifikasi merupakan tokoh penting partai pemenang pemilu 2009 lalu, yakni  Partai Demokrat (PD). Sontak ini mengagetkan publik dan membuat mereka bertanya-tanya, “Jangan-jangan kemenangan Partai Demokrat adalah hasil dari mencuri?”
Ingatan dan geram publik terhadap ulah suap dan korupsi Nazaruddin (bendahara PD) belum usai, air busuk kembali mengalir dari Partai Demokrat, kali ini menyertakan nama Andi Nurpati (juru bicara PD). Andi Nurpati disebut-sebut terlibat dalam pemalsuan Surat Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) saat masih menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Agustus 2009 lalu. Posisi Nurpati yang sebelum berada di PD adalah anggota KPU telah membangkitkan opini negatif sebagian publik terhadap PD, “jangan-jangan ada konspirasi politik?”
Konspirasi politik, di sini, mungkin, bisa diartikan sebagai “transaksi-transaksi rahasia untuk melakukan tindakan melanggar hukum guna mencapai tujuan politik – yang sah.” Konspirasi politik bisa bersifat sistemik ataupun insidental. Konspirasi politik yang sistemik biasanya dilakukan secara massif untuk mengamankan posisi suatu golongan, seperti yang pernah dilakukan oleh Golkar di era Orde Baru. Sementara yang insidental, hanyalah dilakukan oleh beberapa orang guna mengamankan posisinya untuk sementara waktu di arena poltik. Pertanyaannya sekarang, “apakah tindakan yang dilakukan oleh Nazaruddin dan Andi Nurpati merupakan konspirasi sistemik – yang melibatkan seluruh komponen Partai Demokrat?”
Jawaban pasti dari pertanyaan di atas memang belum kita dapat, namun setidaknya ada sedikit gambar yang sudah kita lihat, meski buram, yakni moralitas buruk dari para politisi partai ini; sebuah tradisi mafia yang menjadi penyebab sejumlah besar kekacauan di negeri ini. Meskipun tidak sehebat Hitler dan Stalin, tradisi warisan Orde baru ini, bisa menjadi kekuatan kriminal yang menghancurkan mentalitas politik generasi muda masa depan yang sudah mulai melupakan memori kolektif buruknya di masa lalu.
Politik konspirasi dengan tradisi mafia (kejahatan yang terorganisir) merupakan pola tindakan politik yang masuk dalam kategori kejahatan besar (extraordinary political crime), yang sudah menjadi watak permanen dalam institusi politik borjuis karena tendensi ekonomiknya. Secara teoritik, ini tak dapat disangkal. Basis struktur (base of structure) yang kriminal dan rakus akan membentuk pola suprastruktur (super-structure) – politik, hukum – yang kriminal dan rakus pula. Ini merupakan effluvia (meminjam istilah Trotsky, yang secara etimologis berarti ‘bau busuk yang menyumbat pernafasan’;) yang sudah integral dalam watak borjuis, entah sebagai institusi atau pribadi.

Kasus yang tengah menimpa Nazaruddin dan Andi Nurpati, juga tuduhan-tuduhan negatif yang terus gencar dilontarkan Nazaruddin terhadap kolega-koleganya (terutama terhadap Anas Urbaningrum sebagai ketua umum PD), tidak hanya menghancurkan nama Partai Demokrat, meruntuhkan kredibilitasnya Anas Urbaningrum sebagai politisi, meluruhkan simpati rakyat terhadap Presiden SBY (Dewan Pembina PD), tetapi juga menguak seluruh kebobrokan partai borjuis. Artinya, jika diselidiki, di dalam tubuh seluruh partai borjuis akan ditemui borok yang sama.
Dalam analisa mengenai karakter politik, pola dan tradisi seperti ini tidak hanya terdapat pada Partai Demokrat, tetapi juga pada seluruh partai borjuis yang memiliki tendensi akhir kekuasaan politik dan ekonomi – bukan kemakmuran rakyat. Meskipun tampak progresif dan pro-rakyat (pro-poor), gerakan politik borjuis (seperti Nasional Demokrat – baca Politik Nasional Demokrat (Nasdem): Antara Frase dan Realitas), yang hari ini tengah show off program dan berhasil mengilusi publik, adalah bangunan “kepentingan” yang pondasinya berupa kebohongan. Ketika pondasi ini tidak lagi kuat menyangga kepentingan mereka yang semakin berat, lagi-lagi rakyatlah yang akan tertimpa serpihan-serpihan reruntuhan bangunan itu.

Situasi ini membenarkan konsepsi Marxis mengenai negara di bawah kendali borjuasi. Badan eksekutif negara hanyalah, kata Marx, “...a committee for managing the common affairs of the whole bourgeoisie (sebuah komite yang mengatur kepentingan bersama seluruh borjuasi)”. Tendensi ekonomik, yang menjadi dasar bangunan politik borjuasi, akan membentuk serangkaian kebohongan, manipulasi, penipuan, pemalsuan, transaksi-transaksi-transaksi rahasia, penciptaan ilusi, menuju capaian akhir yang “legal”: untuk memperoleh kekuasaan politik dan ekonomi. Trotsky, dalam Revolusi Permanen, memberi gambaran yang jelas mengenai watak negara:
“Negara bukanlah sebuah tujuan akhir di dalam dirinya sendiri, tetapi ia merupakan alat untuk mengorganisir, disorganisir, dan re-organisir relasi-relasi sosial. Ia dapat menjadi sebuah kekuatan yang besar bagi revolusi atau menjadi sebuah alat penghenti revolusi yang terorganisir, ini tergantung pada tangan yang mengendalikannya.”
Rakyat seharusnya bisa belajar cepat dari pengalaman, tidak hanya dari serentetan kasus yang terjadi akhir-akhir ini, tetapi juga dari kontradiksi-kontradiksi yang terlah berlangsung selama ini, sehingga tidak mudah terperangkap dalam jaring-jaring kepentingan kaum borjuis – bahwa sejak runtuhnya Orde Baru hingga kini, tidak satu pun dari partai-partai politik yang ada menepati janjinya.
Penegasan dari refleksi kristis yang saya tulis ini adalah, mengajak organisasi-organisasi politik berbasis buruh, kaum miskin, kaum tani dan elemen-elemen grassroot lainnya untuk terus-menerus memblow up karakter buruk partai-partai borjuis kepada massa. Tentu saja, massa memiliki keteguhan, pengorbanan diri, heroisme, dll, tetapi terbatas dalam analisa. Dan inilah poin signifikan yang pernah dilakukan oleh Bolshevik kepada massa, yakni terus mengekspos kebobrokan rejim feodal Tsar dan juga kebobrokan kaum borjuis liberal, dan terus menanamkan kepercayaan diri ke dalam massa sebagai satu-satunya kekuatan yang bisa mengubah masyarakat. Selebihnya adalah sejarah. Revolusi Oktober 1917 menjadi revolusi sosialis pertama yang berhasil di muka bumi.

Categories: None

Post a Comment

surya syam says Not surya syam? Sign Out

0 Comments

Selasa, 15 November 2011

Marsinggo - Negeri Sarang Penyamun dan Perampok

 Hati ini pilu teriiris sedih melihat kondisi situasi negeri tercinta ini
Penguasa tak punya nurani menjadikan anak kandung bangsa menjadi anak tiri dinegeri sendiri
Mereka diusir didepak digusur disana sini
Dengan alasan modernisasi dan pembangunan masa kini
Lahan dan tanah petani direbut dicaplok dengan tangan besi
Mereka dibiarkan mati dan tidak dipedulikan sama sekali
Penguasa tutup mata dan mengatakan itu demi kemajuan negeri
Dia tak melihat anak negeri sudah menjadi budak dinegeri sendiri
Keadaan ini dibiarkan oleh Politisi dan wakil rakyat negeri
Mereka lupa ajaran Bapak Bangsa negeri ini
Bapak Bangsa mengajarkan kita harus berdikari dan menentang kapitalisasi dan neo kolonisasi
Tapi mereka buta dan tuli
Tak peduli ajaran yg telah memerdekakan negeri ini
Oh Tuhan berikanlah rakyat kekuatan menanggung kesengsaraan dan ketidak adilan ini
Hanya Engkaulah tempat rakyat mengadukan nasibnya ini


                
Oh Para Pahlawanku negeri ini sekarang telah berubah menjadi sarang kebengisan dan kezhaliman.
Cita2 kemerdekaan yg dahulu engkau perjuangkan telah dicampakkan dan diisi dengan keangkaramurkaan.
Pancasila yang dijadikan dasar negara telah mereka lupakan.
Mereka tidak lain adalah para pengchianat bukan pembela rakyat. 
  

Jumat, 11 November 2011

Marsinggo - Demokrasi Borjuis

Para ahli politik sering mengatakan bahwa “demokrasi” yang ada sekarang ini adalah sistem politik yang paling “demokratis”. “Anda diberi hak untuk memilih,” katanya. “Anda diberi kebebasan untuk berbicara dan berorganisasi. Jika anda ingin mengubah sesuatu, siapapun anda, boleh ‘duduk’ di kursi parlemen.” Tetapi, ternyata, pada kenyataannya, tidak semudah itu. Semua yang diucapkan itu sangat sulit ketika dipraktekkan oleh rakyat jelata. Biayanya sangat besar. Jika ingin “duduk” di parlemen – atau untuk menjadi seorang kepala daerah – haruslah memiliki uang yang jumlahnya milyaran.
Dalam demokrasi model seperti ini, kaum berpunya, yakni kaum kapitalis, yang sebagian besar juga para pejabat negara, dengan baju kearifan, menyimpan daya listrik yang kuat dan mematikan. Dengan daya yang kuat dan mematikan itu mereka akan terus berusaha untuk bisa menempati dan menguasai pos-pos penting. Dengan berbagai cara, mereka tidak hanya ingin memegang kendali  atas ekonomi, tetapi juga ideologi, politik, hukum, budaya, dll.
Pos-pos ekonomi adalah sumber paling penting bagi kapitalis; sebagai sumber utama agar bisa memastikan kelanjutan kekuasaannya. Melalui kepemilikannya atas perusahaan-perusahaan dan, atau, kontrolnya atas lembaga-lembaga keuangan, para kapitalis akan bisa dengan mudah bertindak menurut kepentingannya. Misalnya, membeli tenaga buruh dengan harga murah, memecat buruh, dan mengusir ribuan manusia dari rumahnya.
Selanjutnya, kaum kapitalis akan berusaha untuk bisa dominan secara ideologis, sebagaimana kata Marx: “Ide-ide yang berkuasa di tiap-tiap jaman adalah ide-ide kelas penguasa". Media-media raksasa, baik elektronik ataupun cetak, dimiliki oleh para kapitalis. Ide-ide kapitalis juga disebarluaskan melalui universitas-universitas dan lembaga-lembaga ilmu lainnya.
Hal penting lainnya bagi kapitalis adalah bagaimana bisa mengontrol lembaga-lembaga politik formal. Ini sudah jelas dan terang di Indonesia. Para pejabat tinggi negara tak lain adalah para kapitalis.  Mereka memiliki, atau paling tidak, menguasai instrumen-instrumen penting, seperti modal besar, media, jaringan, dll. Jika mereka tidak ingin secara langsung berada di pos-pos politik formal tersebut, mereka akan membayar politisi-politisi untuk mewakili mereka di pemerintahan. Bagaimana bisa mengintervensi sistem hukum juga hal yang tak kalah penting. Hukum, yang seharusnya sebagai aturan main milik bersama, dengan jelas sangat bias kelas. Karena negara yang berada di bawah kekuatan kapitalisme, sistem hukumnya berpihak kepada kelas kapitalis. Hukumnya adalah hukum kelas. Hukum tersebut jika dibunyikan akan mengeluarkan suara sumbang seperti ini: “Jika anda buruh, jika anda orang miskin, jika anda rakyat biasa, jika anda perempuan dari kelas pekerja, jika anda bodoh,  maka anda memiliki kesempatan lebih besar untuk dihukum – masuk terali besi penjara!”
Praktek politik yang kotor ini sepertinya cocok jika disamakan dengan watak cecunguk,dan kita sebut sebagai demokrasi cecunguk.Dalam bahasa Jawa, Cecunguk adalah nama untuk serangga berkepak yang sering dan suka sekali berada di tempat-tempat kotor. Kata cecunguk juga digunakan oleh Tan Malaka untuk menyebut orang-orang yang bekerja sebagai  “jongos” imperialis Belanda.
Praktek kececungukan ini sudah menjadi watak yang terintegrasi dan sistemik di Indonesia. Watak cecunguk dengan gamblang bisa kita lihat pada tingkah laku politik para politisi borjuis di negeri ini: suka korupsi, serakah, menumpuk-numpuk kekayaan untuk dirinya,  suka menipu dan memanfaatkan kaum yang lemah, dan (ini yang paling memalukan) takut sekali dengan bangsa Barat (majikannya).
Dalam perspektif Marxis, demokrasi borjuis bisa diartikan sebagai “sebuah sistem politik di mana orang-orang yang duduk di pemerintahan, dan tentu di lembaga-lembaga negara lainnya, adalah orang-orang yang berasal dari kelas borjuis”. Mereka adalah para pemilik modal besar. Mereka itulah yang selama ini mengendalikan keuangan, pabrik-pabrik dan mesin-mesin industri modern. Oleh karena itu, borjuasi, yang selama ini sudah berkuasa di pos-pos ekonomi, yang kemudian oleh sistem didorong untuk menempati pos-pos politik, akan dapat dengan mudah mengeksploitasi buruh dan “membunuh” penghidupan jutaan rakyat miskin. Akhirnya, negara yang seharusnya menjadi “ibu” bagi seluruh rakyatnya, hanya akan menjadi (sebagaimana pernah dikatakan oleh Marx) “... tempat di mana individu-individu dari kelas yang berkuasa memaksakan kepentingannya”.
Benar, bahwa, di atas kertas, demokrasi borjuis memberikan ruang yang sama, hak-hak yang sama kepada semua kelas dan golongan.  Tetapi pada prakteknya, ruang-ruang ekonomi dan politik penting hanya bisa diakses oleh kelas tertentu, yaitu kelas borjuis.
Jadi jelas, tidak akan pernah ada demokrasi yang sesungguhnya di bawah kapitalisme. Sebelum sistem kapitaisme ini dihancurkan oleh kaum buruh yang terorganisir, dibantu dengan elemen-elemen progresif lainnya, maka praktek politik yang korup dan bermental cencunguk ini akan terus berlangsung. Sejarah kemanusiaan di bawah demokrasi borjuis akan terus menjadi sejarah teror dan ketakutan; sejarah kemiskinan dan kematian; sejarah kekalahan dan ketidakberdayaan!
  oleh :Jesus.S.Anam